PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI SECARA OUTSOURCING STUDI KASUS PADA PERBANKAN DI INDONESIA

I. PENDAHULUAN

Sistem informasi dalam suatu pemahaman yang sederhana dapat didefinisikan sebagai satu sistem berbasis komputer yang menyediakan informasi bagi beberapa pemakai dengan kebutuhan yang serupa. Para pemakai biasanya tergabung dalam suatu entitas organisasi formal, seperti perusahan yang dapat dijabarkan menjadi Divisi, Kantor Cabang, Unit atau Bagian sampai pada unit terkecil dibawahnya. Informasi menjelaskan mengenai organisasi atau salah satu sistem utamanya mengenai apa yang telah terjadi di masa lalu, apa yang sedang terjadi sekarang dan apa yang mungkin akan terjadi dimasa yang akan datang tentang organisasi atau perusahaan tersebut. Informasi lebih lanjut tentang teknologi komputer, kunjungi website http://okessays.com/

Sistem informasi memuat berbagai informasi penting mengenai orang, tempat, transaksi dan segala sesuatu yang ada di dalam atau di lingkungan sekitar organisasi atau perusahaan. Informasi sendiri mengandung suatu arti yaitu data yang telah diolah ke dalam suatu bentuk yang lebih memiliki arti dan dapat digunakan untuk pengambilan keputusan.

Perbankan termasuk ke dalam industri jasa yang fungsi utamanya adalah sebagai lembaga intermediasi antara pihak yang mempunyai kelebihan dana dengan pihak pihak yang memerlukan dana. Dalam perkembangan selanjutnya perbankan tidak hanya terfokus pada penyaluran kredit tetapi juga pada pelayanan jasa keuangan lainnya seperti jasa pengiriman uang, jasa pelayanan ekspor-impor ( melalui layanan letter of credit), dan jasa keuangan lainnya.  Untuk menunjang kelancaran operasional dan memberikan layanan yang dapat memenuhi harapan konsumen, maka industri perbankan harus ditunjang dengan sistem informasi yang handal dan aman dalam bertransaksi.

Hampir seluruh perbankan di Indonesia sekarang ini telah memberikan pelayanan  secara real time on line dalam bertransaksi.  Sistem informasi yang digunakan di perbankan biasanya terdiri dari beberapa modul sesuai dengan kebutuhan manajemen secara garis besar akan terbagi menjadi : sistem informasi untuk core banking, sistem informasi untuk sumber daya manusi, sistem informasi untuk manajemen aktiva tetap, sistem informasi treasury dan internasional, dan lain-lain.

Banyaknya modul dalam sistem informasi di perbankan harus ditunjang dengan database management system yang baik, network yang handal sehingga diperlukan manajemen sistem informasi yang bersifat integrated.  Setiap bank di Indonesia pasti memiliki divisi teknologi informasi yang bertanggung jawab terhadap kelancaran operasional perbankan khususnya sistem informasinya.  Begitu pentingnya peranan sistem informasi dalam operasional perbankan, maka perbankan dalam pengembangan sistem informasinya tidak hanya dilakukan secara insourcing dengan mengoptimalkan kemampuan divisi teknologi informasi tetapi juga dilakukan secara outsourcing dengan pihak ketiga (vendor) yang mempunyai keahlian khusus dalam bidang teknologi informasi.

Penggunaan outcourcing dalam pengembangan sistem informasi diperbankan ini mempunyai dampak positif seperti tercapainya efisiensi biaya, vendor biasanya lebih munguasai bidangnya secara detail, tidak tersedia ahlinya di perusahaan tersebut dan lain-lain.  Penggunaan outsourcing di perbankan juga mempunyai beberapa kelemahan seperti  masalah yang spesifik yang dihadapi setiap bank berbeda-beda seringkali vendor tidak bisa mengatasinya, biaya maintenance yang mahal dan cenderung bank hanya sebagai pengguna saja tanpa bisa mengembangkan sistem informasinya.

  1. II. TINJAUAN PUSTAKA

Teknologi informasi, termasuk sistem informasi berbasis internet, mempunyai
peranan yang penting dalam memperluas bisnis. Teknologi Informasi dapat membantu semua jenis usaha meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam proses bisnis,
pengambilan keputusan manajerial, dan kerjasama, sehingga memperkuat
posisi kompetitif di pasar yang berubah dengan cepat. Teknologi informasi dapat digunakan untuk mendukung tim pengembangan produk, dukungan pelanggan
proses, transaksi perdagangan elektronik, atau kegiatan usaha lainnya.

Sistem informasi juga dapat dimanfaatkan oleh perusahaan untuk mendukung penerapan strategi kompetitif, yaitu biaya yang paling murah, diferensiasi, inovasi, pertumbuhan, dan aliansi. Beberapa kunci strategi mengimplementasikan teknologi informasi. Mereka termasuk pengikatan terhadap pelanggan atau pemasok, membangun switching biaya, meningkatkan hambatan masuk, dan
meningkatkan investasi di teknologi informasi (O’brien, 2007)

Sistem pengembangan berdasarkan metodologi life cycle menurut Brown et al (2009), menyebutkan ada tiga tahapan dalam proses siklus hidup sistem informasi yaitu:  pendefinisian, kontruksi dan implementasi dan lebih dikenal dengan sebutan system development life cycle (SDLC).

Tahap pertama dalam SDLC adalah pendefinisian yang terdiri dari tahapan studi kelayakan dan tahapan pendefinisian kebutuhan bisnis (requirements definition. Pada tahap studi kelayakan manajer proyek pengembangan sistem duduk bersama manager operasional untuk merumuskan kebutuhan sistem informasi yang dinilai berdasarkan kelayakan secara ekonomi, operasional dan teknis.  Pada tahapan pendefinisian kebutuhan bisnis, para manajer harus dapat menjelaskan kebutuhan bisnis akan sistem informasi yang akan dikembangkan dan analys akan menbuat desain yang fokus terhadap proses, alur data dan hubungan antar data.

Tahap kedua dalam SDLC adalah tahap kontruksi yang terdiri dari mendesain sistem, membangun sistem dan pengujian sistem.  Pengembangan desain sistem berdasarkan konseptual permintaan dokumen yang dihasilkan pada tahap pendefinisian. Pada tahap pembangunan sistem terdiri dari memproduksi sistem komputer dan peningkatan sistem database dan file-file yang diperlukan. Tahap pengujian merupakan upaya apakah sistem yang dibangun sudah sesuai dengan kebutuhan bisnis dan manajemen.

Tahap terakhir dari SDLC adalah implementasi yang terdiri dari tiga phase yaitu instalasi, opersional dan pemeliharaan. Pada tahap implementasi ini terjadi perpindahan dari sistem lama ke sistem baru termasuk pembuatan file dan database yang baru. Setelah implementasi selesai dilakukan operasional dengan menggunakan sistem baru kemudian dilakukan pemeliharaan untuk menjaga kinerja operasional sistem.

  1. III. PEMBAHASAN

Sistem informasi berbasis komputer digunakan di perbankan pada semua tahapan operasional pada tingkat unit kerja mulai dari kantor kas, kantor cabang pembantu, kantor cabang sampai dengan kantor pusat. Sistem informasi yang paling penting yang dimiliki oleh bank adalah core banking system yang merupakan tulang punggung operasional.   Pada perbankan yang sudah real time on line dalam operasionalnya selain core banking system juga ditentukan database management system dan network yang dimiliki.  Core banking ini terdiri dari aplikasi aplikasi operasional cabang seperti tarik, setor tabungan, pelayanan transfer, pembukuan dan lain-lain.  Perbankan di Indonesia untuk core banking system-nya ada yang merupakan pengembangan sendiri atau dibeli dari pihak ketiga (outsourcing).  Untuk bank dengan jaringan masih sedikit biasanya mengembangkan core banking system secara mandiri (insourcing) sedangkan bank dengan jaringan sedang dan luas biasanya secara outsourcing.  Pemilihan secara insourcing atau outsourcing dalam pengembangan sistem informasi untuk core banking system adalah efisiensi biaya pembelian dan pemeliharaan sistem serta kebutuhan perusahaan akan sistem tersebut.  Jika bank dengan jaringan sedikit dan belum merupakan bank devisa, maka core banking system yang dibutuhkan organisasi akan lebih sederhana dibandingkan bank dengan jaringan luas dan sudah merupakan bank devisa.

Pertimbangan memilik perusahaan outsourcing di perbankan adalah sama dengan yang disampaikan O’Brien (2007) yaitu faktor harga yang ditawarkan, layanan purna jual, kualitas sistem yang ditawarkan meliputi keakurat data dan informasi yag dihasilkan serta keamanan sistem, pengalaman vendor tersebut dan sebagainya.  Perbankan juga sering melakukan modifikasi dari outsourcing ini dengan melakukan perjanjian dengan vendor dimana tim IT bank tersebut dapat melakukan development atas sistem yang telah dibelinya dan sepenuhnya menjadi milik bank tersebut.  Modifikasi ini diperlukan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan organisasi atau ketentuan regulator.  Supaya efisien dalam biaya bank biasanya membeli sistem informasi (aplikasi) dari vendor secara modul per modul sehingga pembelian bisa disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan saja.

Selain pembelian, hal lain yang dilakukan bank supaya efisien dalam penggunaan outsourcing untuk pengembangan sistem informasinya adalah dengan melakukan kontrak terhadap vendor yang disesuaikan dengan kemampuan bank tersebut dalam keuangan dan tim IT-nya.  Hal ini bisa dilakukan misalnya pembelian sistem informasi saja berupa suatu aplikasi sedangkan pemeliharaan dan pengembangan di tangani perusahaan itu sendiri karena bank tersebut telah memiliki tim IT yang handal dan berpengalaman sedangkan untuk konsultasi dan re-engenering masih menggunakan vendor.  Jika bank tersebut mempunyai keterbatasan dalam tim IT-nya, maka pembelian aplikasi akan disertai pemeliharaan, pengembangan dan konsultasi dengan cara outsourcing.

Keuntungan perbankan dalam mengembangkan sistem informasinya secara outsourcing adalah :

  1. Perusahaan dapat fokus terhadap core bisnisnya sedangkan masalah sistem informasi sudah ditangani pihak outsourcing sehingga kalau ada kebutuhan sistem baru, permasalahan dan penyesuaian dengan peraturan baru tinggal langsung menghubungi vendor saja.
  2. Jika bank tersebut telah memiliki jaringan luas dan transaksi yang beragam, maka untuk pengembangan sistem informasi lebih baik ditangani secara outsourcing karena kalau ditangani sendiri akan memakan biaya yang tinggi.
  3. Sistem informasi dan aplikasi yang dibutuhkan bank sangat beragam dan jika semuanya ditangani secara insourcing tidak efisien karena bank akan kekurangan sumber daya manusia di bidang IT-nya dan ada sistem aplikasi yang spesifik dan hanya vendor tertentu saja yang menguasainya (misalnya : treasury sistem) sehingga secara outsourcing akan lebih menguntungkan karena akan ditangani pihak yang profesional.

Kelemahan bank yang menggunakan outsourcing dalam pengembangan sistem informasinya adalah :

  1. Pada tahap tertentu sistem outsourcing akan menyebabkan perusahaan sangat tergantung ke vendor dan jika ditemukan suatu permasalahan dalam sistem informasinya akan memerlukan waktu untuk mengatasinya menunggu tim dari pihak outsourcing.
  2. Kemandirian tim IT pada bank tersebut menjadi terganggu karena sangat tergantung pada pihak outsourcing.
  3. Jika banyak vendor yang terlibat dalam outsourcing pada suatu perusahaan, maka akan menyulitkan perusahaan itu sendiri dalam mengelola sistem informasinya karena biasanya vendor ini bersifat spesifik kemampuannya.
  4. Biaya yang mahal terutama untum pemeliharaan sistem informasinya, perusahaan outsourcing untuk pemeliharaan biayanya per jam layanan dan per item masalah sampai permasalahannya tuntas.

Perbankan dalam memilih vendor yang akan melakukan outsourcing dalam pengembangan sistem informasi harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :

  1. Kemampuan vendor tersebut dalam memahami nature bisnis bank tersebut dan kebutuhan bank tersebut.
  2. Jaringan layanan purna jual dan ketersediaan tenaga ahli untuk menangani permasalahannya yang mungkin terjadi.
  3. Kemudahan dalam alih teknologi dan kewenangan akan pengembangan sistem tersebut.
  4. Jika vendornya dari luar negeri, apakah vendor tersebut mempunyai jaringan layanan purna jual di dalam negeri.
  5. Pengalaman vendor tersebut dalam pengembangan sistem informasi di bank lain .
  1. IV. KESIMPULAN

1.Sistem informasi berbasis komputer merupakan komponen penting dalam bisnis perusahaan begitu pula dalam industri perbankan.

2.Setiap tahapan operasional di perbankan sudah menggunakan sistem informasi berbasis komputer seperti di core banking system, sehingga diperlukan pengembangan sistem informasi yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing bank.

3.Pengembangan sistem informasi di bank secara outsourcing mempunyai beberapa keuntungan diantaranya adalah : bank bisa fokus pada core bisnisnya, ditangani pihak yang profesional dibidangnya dan mengatasi keterbatasan tenaga ahli IT di bank.

4.Pengembangan sistem informasi di perbankan secara outsourcing juga mempunyai beberapa kelemahan yaitu: menyebabkan ketergantungan, divisi IT tidak mandiri, dan jika vendornya banyak sulit untuk mengaturnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Brown, Carol V, Daniel W DeHayes, Jeffery A. Hoffer, E. Wairight Martin, William C. Perkins. 2009. Managing Information Technology Sixth Editio. Pearson International Prentice Hall.

O’Brien, Markas. 2007. Management Information System. Mc Graw-Hill Companies.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.